Jakarta — Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) menggelar konferensi pers menjelang Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo II) di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu (12/8/2026). Dalam pertemuan tersebut, CDCC memaparkan agenda dan pokok pemikiran yang akan dibahas dalam forum cendekiawan Indonesia dan Malaysia pada 20–23 Agustus 2026.
Konferensi pers dihadiri Ketua Pembina CDCC Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Ketua Pengurus Yayasan CDCC Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Prof. Dr. R. Siti Zuhro dan Dr. Agus Wicaksono dari Steering Committee Madani Malindo, serta Direktur Eksekutif CDCC Puti Hasanatu Syadiah. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menjelaskan latar belakang penyelenggaraan Madani Malindo II serta relevansinya di tengah perubahan tatanan dunia.
Din menjelaskan, Madani Malindo merupakan ruang perjumpaan cendekiawan kedua negara yang tidak hanya dimaksudkan untuk memperkuat silaturahim, tetapi juga membangun silatulfikri atau pertukaran pemikiran. Pada persidangan kedua, pembahasan akan diarahkan pada satu tema besar mengenai Wawasan Negara Madani.
“Bertujuan selain untuk silaturahim tapi juga silatulfikri membincangkan satu tema besar yaitu wawasan negara Madani yang digagas oleh Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Anwar Ibrahim yang bagi kita di Indonesia wawasan negara Madani itu adalah Negara Pancasila itu sendiri,” ujar Din.
Pembahasan mengenai Negara Madani, menurut Din, menjadi penting ketika dunia tengah menghadapi berbagai perubahan dan tantangan. Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara serumpun dinilai memiliki modal sejarah, budaya, dan keagamaan untuk mengembangkan gagasan yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan material, tetapi juga keadaban serta kesejahteraan masyarakat.
Perspektif tersebut juga berkaitan dengan perubahan tatanan global menuju dunia yang semakin multipolar. Karena itu, Madani Malindo II tidak hanya diarahkan untuk membicarakan hubungan Indonesia dan Malaysia, tetapi juga membuka ruang pemikiran mengenai kontribusi kedua negara bagi Dunia Islam dan perkembangan peradaban pada masa mendatang.
Siti Zuhro menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi dan sinergi di tengah perubahan lingkungan strategis tersebut. Kerja sama, menurutnya, tidak cukup dibangun di dalam masing-masing negara, tetapi perlu diperluas melalui hubungan dan pertukaran pemikiran antarmasyarakat kedua bangsa.
“Jadi kolaborasi sinergi itu sangat diperlukan tidak hanya secara internal tapi juga antar negara. Dan inilah saatnya kita bisa tidak hanya berkompetisi tapi masing-masing saling memperkuat,” ujar Siti.
Dalam konferensi pers tersebut, Din juga menyampaikan harapan agar Presiden RI Prabowo Subianto dapat menerima sekaligus membuka pertemuan para cendekiawan Indonesia-Malaysia. Harapan tersebut disampaikan dengan merujuk pada penyelenggaraan Madani Malindo pertama di Malaysia yang melibatkan Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Anwar Ibrahim.
Madani Malindo II merupakan kelanjutan dari persidangan pertama yang berlangsung di Kuala Lumpur pada 2025. Melalui pertemuan kedua di Jakarta, CDCC bersama Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) akan kembali mempertemukan cendekiawan kedua negara untuk memperdalam Wawasan Negara Madani sekaligus memperkuat jejaring intelektual Indonesia-Malaysia.
Bagi CDCC, pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada silaturahim, tetapi berkembang menjadi pertukaran pemikiran yang dapat melahirkan gagasan dan agenda bersama. Dari hubungan dua bangsa serumpun, Madani Malindo diharapkan dapat membuka ruang bagi kontribusi yang lebih luas terhadap Dunia Islam dan peradaban global.